Friday, March 22, 2013

Stephen Tong alias Tong Tjong Eng

Oleh SOLOMON TONG
Kakak Kandung Stephen Tong
Dirigen dan Pendiri Surabaya Symphony Orchestra

Tong Tjong Eng (Stephen) dan aku merupakan pasangan serasi. Kami bermain bersama, masuk sekolah duduk di kelas yang sama, tidur seranjang. Sejak usia anak-anak, ia sudah suka meniru pendeta berkhotbah.


Stephen adalah seorang pesolek. Saat berusia lima tahun, setiap harinya berdiri di atas meja, berpakaian rapi, bergaya bagaikan seorang pendeta sedang berkhotbah. Saudara-saudaranya diajak duduk di lantai untuk mendengarkan ia khotbah. Saat itu kami baru pulang mendengarkan khotbah penginjilan dari Pendeta Tjoa Sin Tek.

Stephen suka bertingkah, bahkan berdasi sapu tangan sewaktu khotbah. Rambutnya pun diberi pomade, disisir rapi mengkilat model pesawat terbang. Cita-citanya menjadi seorang pendeta akhirnya terwujud.

Stephen tergolong anak yang sangat nakal. Saat masih kecil di SD Ming Kwang dia pernah bermain papan jungkat-jungkit. Anak yang duduk di ujung sebelah sana diam diam lari pergi sehingga Stephen terpental. Papan ujung sebelah sini langsung menghantam tulang kakinya, sehingga menderita luka menganga besar yang sulit disembuhkan. Setelah sembuh, masih meninggalkan bekas yang dalam.

Saat masih usia balita, pada suatu hari ia dan aku bermain duduk di atas meja berkaki silang seperti kaki meja karambol. Di atas meja terletak sepanci bubur mendidih. Dengan tidak sengaja, Stephen beranjak pergi sehingga papan mejanya jomplang miring. Aku terjatuh dan tersiram bubur mendidih mulai dari pundak mengalir turun ke telapak tangan. Aku menangis menjerit kesakitan, tetapi tetap duduk di tanah.

Ibu datang menolong dan langsung menyuruh Peter membawa aku ke dokter. Seluruh tangan yang tersiram bubur mendidih itu dioles vaselin, terutama pada bagian yang kulitnya terkelupas. Berselang beberapa bulan, baru berangsur sembuh. Kini telapak tangan kiriku berbekas keriput yang tidak bisa pulih. Bersyukurlah, bubur itu tidak menyiram aku dari kepala. Jikalau ya, maka wajahku pasti rusak dan mengerikan.

Stephen adalah seorang anak genius. Sejak kecil ia suka pakai sumpit dengan menggunakan tangan kiri, menulis dengan tangan kiri (kidal) juga. Pengasuhnya terpaksa harus mengikat tangan kirinya di belakang tubuh, supaya ia menggunakan tangan kanan. Hal itu malah membuat Stephen serba bisa: semua hal bisa dilakukan atau dikerjakan dengan tangan kanan dan juga tangan kiri.

Bahkan, ia dapat melukis dengan kedua tangannya sekaligus. Ia gemar membaca. Apa pun yang dibacanya, meski hanya sepintas saja, sudah terekam dan diingat untuk seterusnya. Apa yang diajar guru di kelas, ia tidak membutuhkan konsentrasi untuk mendengar. Langsung sudah mengerti semuannya, dapat mengembangkan dan melengkapi, bahkan melebihi gurunya.

Stephen tidak pernah membuat PR (pekerjaan rumah). Kalau ada ulangan baru meminjam PR kawan sekelas, sekadar membaca, sudah langsung mengerti dan hasil ulangannya bisa mendapat nilai 9. Ini akhirnya menimbulkan kecemburuan kawan–kawan sekelas. Mereka sepakat tidak meminjamkan PR–nya kepada Stephen, tetapi Stephen tetap lulus dengan ranking atas.

Pada tahun 1957 Stephen sudah mengajar sebagai guru les di rumah murid. Gaji pertamanya cukup untuk membeli dua buah sepeda pancal bermerek Phillips, karena bertahun–tahun kami tidak pernah membayangkan bisa mempunyai sepeda. Dulu, bila ada orang membeli nasi di warung nasi ibu yang kami kenal, selalu kami pinjam sepedanya untuk belajar. Dan hasrat untuk membeli sepeda itu akhirnya terkabul.

Gaji bulan kedua, Stephen belikan dua buah jam tangan merek Olma. Satu dipakai sendiri, yang satunya diberikan kepada aku. Kemudian gajinya bulan ketiga dan seterusnya ia kumpulkan, sampai bisa membeli sebuah piano bekas dari dokter piano, Yap Yauw Tjong, di Jl. Kramat Gantung Surabaya.

Keinginan memiliki piano juga sudah terpendam bertahun–tahun. Sebelum belajar piano pada 1953, Stephen sudah bermimpi ingin punya piano. Ia diajar main piano oleh nyonta pendeta CFMU, Ibu The Nai Lian. Saat itu kami tidak memiliki piano. Maka, Stephen harus membuat keyboarad piano dengan bahan papan kayu untuk berlatih. Tangannya menabuh di atas papan kayu, bunyinya ting tang ting tong dari mulut.

Setelah membeli piano dari Yap Yauw Tjong tadi, ternyata pianonya sangat parah kondisinya. Maka, setelah dibuat main hanya tiga hari sudah macet dan rusak. Pianonya dikembalikan. Lalu, melalui informasi dari seorang teman bahwa di Lawang ada seorang yang mau menjual pianonya, Stephen dan aku langsung naik kereta api menuju Lawang di Jl. Pungku Argo.

Kami melihat piano yang mau dijual itu. Ternyata pianonya baik sekali, mereknya F. Dörner Stuttgart buatan Jerman. Lalu kami berpatungan uang, Stephen, aku, dan Ibu, jumlahnya Rp 30.000. Kami berhasil membeli piano tersebut. Dan itu adalah piano pertama yang kami miliki. Mimpi telah menjadi kenyataan. Puji Tuhan, yang telah mendengar doa anak-anak-Nya.

Pada 1957-1958 Stephen mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus. Di samping menjadi guru di SD Chung Kwok Nu Sue di Jl. Sidodadi, malamnya mengajar di sekolah malam Gie Hien sebagai pengganti Peter yang pergi ke USA. Ia juga mengajar les privat di rumah murid. Saat itu boleh dikatakan ia sudah mempunyai penghasilan yang cukup besar, tetapi uang yang didapatnya itu dengan rela diserahkan kepada ibu, Tan Tjien Nio, untuk biaya keluarga.

Pada tahun 1957, Stephen mempersembahkan diri menjadi Hamba Tuhan melalui Youth Comp MAAT di Malang. Sejak hari itu hingga saat ini (2009) sudah 52 tahun ia melayani Tuhan. Tahun 1960 Stephen studi teologi di MAAT Malang, lulus 1964, diutus ke Gereja THKTKH Jemaat Hok Tjiu Kwok Yu di Surabaya sebagai penginjil.

Sebelum lulus, Stephen sudah dikenal dengan penginjilannya bukan saja di Surabaya, tetapi juga di Malang, Kediri, Semarang, Makassar, Manado, dan kota kota yang lain. Semangat penginjilannya begitu berkobar-kobar, terkadang harus naik truk dari Surabaya ke Kediri. Aku pernah mendampingi dia bersama naik truk ke Kediri berpraktek di Gereja GKT Jl. Klenteng Kediri sambil berobat di rumah sakit Baptis di Kediri juga.

Stephen juga beberapa kali terhindar dari maut.


Kejadian yang pertama di Jakarta. Stephen mengalami kecelakaan naik kendaraan motor. Ia dibawa ke rumah sakit karena gegar otak. Tetapi pada saat itu ia harus khotbah di Gereja Kristus Ketapang. Ia buru–buru memaksakan diri keluar dari rumah sakit, menuju gereja, naik mimbar dengan kepalanya dibalut.

Kejadian kedua: ia mengalami kecelakaan motor di Surabaya. Dengan motor Yamaha bebek 50 cc, setelah khotbah, pulang dari gereja di Jl. Samudra sampai di perempatan Jl. Bongkaran. Dengan tidak sadar, ia menghatam becak. Ada kemungkinan tertidur saat mengendarai motornya oleh karena terlalu capai.

Orang mengirim Stephen ke rumah. Saat itu hari Minggu. Aku mengajar paduan suara di GKT Malang. Pulang ke rumah sudah di atas pukul 23.00. Aku melihat Stephen berbaring di ranjang, tidak dapat bangun dari tempat tidur, sekujur tubuhnya luka lecet. Melalui seorang pemuda gereja, namanya Ho Djie Wei, dipanggil seorang dokter spesialis urat saraf tetangganya di Jl. Sidoyoso, Dr. Lukas Tjeng.

Tjoe Liang mau datang di rumah pukul 24.00, lalu dibuat surat pengantar opname di Tionghwa Ie Wan (sekarang Rumah Sakit Adi Husada). Malam itu juga, sampai sembuh dua minggu kemudian.

Beberapa orang yang setiap harinya datang membesuk di rumah sakit, di samping aku dan Karlina istriku, masih ada majelis gereja Ibu Tan Tek Ham, Ibu Ho Ai Ik. Biaya pengobatan ditanggung bersama oleh gereja dan aku. Saat di rumah sakit, ada seseorang anak perempuan dari Manado datang ke Surabaya ingin bertemu dengan Stephen.

Aku memberitahu kepadanya bahwa Stephen sedang opname di rumah sakit. Ia paksa ingin menjenguk, namanya Rita. Ia sungguh membuat aku repot dengan macam–macam tindakan yang aneh. Orang ini cinta sepihak pada Stephen. Aku dibuat pusing tujuh keliling, sampai-sampai mengirim daging babi lewat tukang pos.

Aku menolak menerima kirimannya, namun dengan segala cara ia tetap mengirim ke rumahku. Bayangkan, daging babi yang sudah aku tolak tiga hari yang lalu, mengeluarkan bau yang sangat menusuk hidung. Ia pagi sore datamg ke rumah menunggu, akhirnya aku bilang aku mau melaporkan dia ke polisi, baru tidak datang lagi.

Setelah Stephen sembuh, aku berkata kepada Stephen: cepat–cepat nikah sajalah supaya aku tidak terusik terus-menerus oleh gadis-gadis yang jatuh cinta kepadanya. Memang banyak gadis yang menaruh perhatian, apalagi Stephen sering tidak di rumah. Yang menghadapi gadis–gadis tersebut adalah aku dan Karlina.

Stephen mau mempertimbangkan anjuranku tersebut. Dan melalui perencanaan, pembahasan, akhirnya aku dan Karlina mewakili ibuku yang sedang berada di luar negeri untuk melamar Alice, gadis pilihan Stephen. Putri bungsu dari Nyonya Janda Lin Tek Seng, mantan Ketua Majelis GKT Jemaat Hok Tjiu Kwok Yu.

Setelah melamar, Ny. Lin langsung menelepon Alice yang baru berangkat studi di USA, menyuruh dia segera pulang. Mula-mula Alice tidak percaya. Sampai Stephen telepon sendiri langsung untuk melamarnya, barulah ia percaya, dan langsung pulang ke Surabaya. Akhirnya, Stephen mempersunting Alice pada 1971. Saat acara pernikahan dilangsungkan, enam orang sudara Tong untuk pertama kalinya bertemu.

Setelah menikah, Stephen dan istrinya beserta mertuanya suatu saat tinggal bersama serumah dengan aku dan ibu. Stephen kemudian pindah ke Jakarta setelah mendirikan Lembaga Reform Injili bersama-sama dengan Caleb. Saat itu aku diminta bergabung, tetapi aku menyatakan tidak bersedia dengan alasan untuk menghidari tanggapan orang sebagai Lembaga Tong Brothers. Maka, diajaklah Pendeta Yakub Susabda untuk menjadi salah seorang pendiri Lembaga tersebut.

Stephen dikaruniai empat anak, yaitu Elizabeth, David, Unice, dan Rebecca. Di antara keempatnya, pada 2009 ini Rebecca saja yang belum menikah, yang lainnya sudah berkeluarga. Mereka menempuh pendidikan di Amerika. Semuanya melayani pekerjaan Tuhan.

Lembaga Reformed Injili berkembang dengan pesat. Selain telah membuka Sekolah Tinggi Reformed Injili, juga dilengkapi beberapa Sekolah Teologi di beberapa kota, membuka cabang-cabang gereja di kota-kota dalam maupun luar negeri. Di samping itu telah membangun sebuah Gereja Reformed yang terlengkap dan terbesar di Indonesia terletak di daerah Kemayoran Jakarta yang diresmikan pada November 2008.

Dan beban penginjilan maupun pengajaran doktrin reformed-nya tidak pernah pudar. Kini Stephen setiap minggunya harus ke empat negara untuk menjalani misi tersebut. Di samping Indonesia, ia masih harus mengunjungi Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Taiwan.

Sumber: Memoar Solomon Tong, Penerbit Jaring Pena (Grup Jawa Pos), 2009, halaman 46-55.

CATATAN
Banyak sekali komentar ANONIM yang memojokkan Pendeta Stephen Tong, bahkan menyerang doktrin kristiani, sehingga semua komentar terpaksa dihilangkan. Para komentator ANONIM jelas orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

No comments:

Post a Comment