"For from Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever! Amen"
Saturday, April 6, 2013
Memikirkan Hati Tuhan: Jawaban Tuhan Bijaksana
Memikirkan Hati Tuhan: Jawaban Tuhan Bijaksana: "Jawaban-jawaban Tuhan lebih bijaksana dari pada doa-doa kita". "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada...
Friday, April 5, 2013
John Piper: Faith Glorifies God
“Your
daddy is standing in a swimming pool out a little bit from the edge. You are,
let’s say, three years old and standing on the edge of the pool. Daddy holds
out his arms to you and says, “Jump, I’ll catch you. I promise.” Now, how do
you make your daddy look good at that moment? Answer: trust him and jump. Have
faith in him and jump. That makes him look strong and wise and loving. But if
you won’t jump, if you shake your head and run away from the edge, you make
your daddy look bad. It looks like you are saying, “he can’t catch me” or “he
won’t catch me” or “it’s not a good idea to do what he tells me to do.” And all
three of those make your dad look bad.
But you don’t want to make God look bad. So you trust him. Then you make him look good–which he really is. And that is what we mean when we say, “Faith glorifies God” or “Faith gives God glory.” It makes him look as good as he really is. So trusting God is really important.
And the harder it seems for him to fulfill his promise, the better he looks when you trust him. Suppose that you are at the deep end of a pool by the diving board. You are four years old and can’t swim, and your daddy is at the other end of the pool. Suddenly a big, mean dog crawls under the fence and shows his teeth and growls at you and starts coming toward you to bite you. You crawl up on the diving board and walk toward the end to get away from him. The dog puts his front paws up on the diving board. Just then, your daddy sees what’s happening and calls out, “Johnny, jump in the water. I’ll get you.”
Now, you have never jumped from one meter high and you can’t swim and your daddy is not underneath you and this water is way over your head. How do you make your daddy look good in that moment? You jump. And almost as soon as you hit the water, you feel his hands under your arms and he treads water holding you safely while someone chases the dog away. Then he takes you to the side of the pool.
We give glory to God when we trust him to do what he has promised to do–especially when all human possibilities are exhausted. Faith glorifies God. That is why God planned for faith to be the way we are justified.”
But you don’t want to make God look bad. So you trust him. Then you make him look good–which he really is. And that is what we mean when we say, “Faith glorifies God” or “Faith gives God glory.” It makes him look as good as he really is. So trusting God is really important.
And the harder it seems for him to fulfill his promise, the better he looks when you trust him. Suppose that you are at the deep end of a pool by the diving board. You are four years old and can’t swim, and your daddy is at the other end of the pool. Suddenly a big, mean dog crawls under the fence and shows his teeth and growls at you and starts coming toward you to bite you. You crawl up on the diving board and walk toward the end to get away from him. The dog puts his front paws up on the diving board. Just then, your daddy sees what’s happening and calls out, “Johnny, jump in the water. I’ll get you.”
Now, you have never jumped from one meter high and you can’t swim and your daddy is not underneath you and this water is way over your head. How do you make your daddy look good in that moment? You jump. And almost as soon as you hit the water, you feel his hands under your arms and he treads water holding you safely while someone chases the dog away. Then he takes you to the side of the pool.
We give glory to God when we trust him to do what he has promised to do–especially when all human possibilities are exhausted. Faith glorifies God. That is why God planned for faith to be the way we are justified.”
Thursday, April 4, 2013
Profersor Yang Bergairah : Aurelius Augustinus
"Sst, jangan ribut, nanti ibumu bangun. Aku tidak ingin mendengar khotbahnya."
Ayah dan anak berjingkat-jingkat masuk ke dalam rumah Romawi mereka, namun si ibu mendengar mereka meskipun mereka berusaha supaya tidak di dengar. Sebelumnya mereka berkali-kali merasa sakit hati oleh suaminya yang menghabiskan waktunya tiap-tiap malam dalam pesta-pesta. sekarang ia merasa lebih sakit hati oleh karena putranya Aurelius, yang baru saja berumur 17 tahun, telah menemani ayahnya dalam pesta-pestanya itu.
Aurelius memandang dengan sedih kepada ibunya yang menangis, dan berkata, "Kami telah bersenang-senang." Ia tidak dapat merasakan usaha ibunya untuk mengajaknya menjadi orang Kristen.
Setahun kemudian Aurelius menjadi ayah dari seorang anak yang tidak sah dan menghancurkan hati Monika dengan melanjutkan hidup bersama dengan ibu anak itu selama 13 tahun menikahinya. Ketika ayahnya meninggal, Aurelius sudah tidak dapat dipungkiri lagi hidup secara asusila. Monika terus mendoakan puteranya.
Aurelius menjadi seorang Profesor dan mendirikan sekolahnya sendiri di Kartago, Afrika Utara. Pada masa itu kebanyakan pengajaran dilakukan di dalam rumah-rumah tangga dan ruangan-ruangan yang disewakan, serta uang kuliah siswa-siswanya digunakan untuk membayar gaji si guru dan pengeluaran-pengeluaran sekolah lainnya. Sekolahnya, yang terletak di Jalan Bankir, di kota yang terkenal di Afrika maju dengan pesat. Siswa-siswanya adalah keturunan bangsawan-bangsawan di kota itu. Aurelius merenung, pada suatu hari mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin pemerintah. Mereka akan mengingatnya dengan memberi dia satu jabatan yang istimewa. Segalanya tampak berjalan dengan baik.
Kemudian sekolah Aurelius itu dirusak oleh gerombolah perampok. Pengalaman yang menakutkan ini menyebabkan dia melarikan diri dari Afrika. Lalu ia mendirikan sebuah sekolah di roma di mana tampaknya lebih aman.
Suatu grup orang-orang Kristen palsu di sana yang disebut "Manicheans" menarik hati profesor muda itu. Aurelius menjadi mahasiswa yang giat dari aliran bidat itu yang mendasarkan doktrin-doktrinnya pada ajaran campuran yang aneh antara Alkitab dan filsafat Yunani. Tetapi ia menjadi kecewa setelah ia berbicara dengan Uskup Fastus, seorang guru "Manichean" yang terkenal. Aurelius berpendapat bahwa orang itu tidak lain hanyalah seorang propagandis murahan oleh karena itu meninggalkan keyakinan yang telah dipertahankannya selama 9 tahun.
Setahun setelah ia tiba di Roma, pemerintahan Romawi mengangkat dia menjadi profesor ilmu pidato di Milano. Aurelius mengundang ibunya untuk ikut dengannya. Ibunya tidak pernah berhenti mendoakan dia supaya bertobat.
Di Milano, Aurelius disambut oleh Uskup Ambrosius, seorang pemimpin Kristen yang penuh pengabdian dan seorang penduduk yang paling berpengaruh di kota itu. "Mari, dengarlah saya berkhotbah." Pengkhotbah yang ternama itu mengundangnya.
Dengan acuh tak acuh Aurelius pergi untuk mendengar khotbah Uskup Ambrosius. Namun cara Uskup itu berbicara dengan halus menyenangkan hati Aurelius sehingga ia pergi mendengarnya berulang-ulang. Pada suatu hari Ambrosius berkhotbah tentang Raja Daud. "Bahwa Daud berdosa itu karena ia manusia, namun pertobatannya itu merupakan sesuatu yang luar biasa," katanya. "Manusia mengikuti dosa Daud; tetapi mereka tidak meneladan dia pada saat ia mengakui dosanya dan bertobat."
Kehidupan masa lalu Aurelius yang asusila itu mulai menghantuinya. Ia telah berdosa seperti Daud, tetapi ia tidak bertobat seperti Daud.
Oleh karena perasaan-perasaan ersalah itu bertambah kuat, keragu-raguannya mengenai agama Kristen menjadi hilang. Akhirnya ia dapat mengatakan dengan tulus bahwa Kitab Suci itu wahyu Allah dan bahwa Yesus itu Anak Allah. tapi nafsunya untuk berbuat dosa itu masih mendorong dia untuk terus menjalani kehidupan yang asusila.
Hatinya yang lapar bergumuldengan dosanya sampai pada suatu hari ia masuk ke dalam sebuah taman dan berlutut di bawah sebuah pohon ara dan memohon, "O Tuhan, akhirilah perbuatan hamba yang jahat ini."
Pada saat itu juga ia mendengar suara seorang anak di luar taman itu seperti menyanyi, " Tolle lege! Tolle lege! Ambil dan bacalah! Ambil dan bacalah!".
Aurelius melihat ke bawah. Di hadapannya ada suatu kutipan dari Surat Roma, yang telah dibiarkannya sebelumnya. Matanya memandang pada kalimat "Jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (Roma 13:13,14).
Dengan sukacita Aurelius menunjukkan kutipan tadi kepada teman dekatnya, Alypius. "Saya telah mengenakan Kristus," katanya. Hati saya dipenuhi dengan damai."
Kemudian Aurelius dengan cepat mengatakan kepada ibunya, Monika, bahwa doanya yang telah disampaikan selama bertahun-tahun itu telah terjawab. Kemudian setelah mengikuti pelajaran istimewa, Aurelius dibaptiskan oleh Uskup Ambrosius.
Profesor Aurelius Augustinus menghabiskan waktunya yang penuh dengan buah-buah rohani selama 44 tahun melayani Kristus dan selama itu menulis 70 buku Kristen. Salah satu diantaranya ialah The Confessions of St. Augustine, yang telah dinilai oleh ahli-ahli kesusastraan sebagai salah satu buku dari seratus buku yang terbaik sepanjang zaman. The Confessions ditunjukkan kepada Allah dan buku itu berisi ungkapan yang sering dikutip. "Engkau telah menjadikan kami bagi-Mu, dan hati kami tidak tenang sampai kami bersandar padamu."
Augustinus meninggal dengan damai pada tahun 430, tidak lama setelah Roma jatuh ke tangan bangsa barbar. Pada waktu itu ia menjadi Uskup di Hippo, Afrika Utara. Pada saat ia meninggal, kota itu sedang dikepung oleh bangsa Vandal dari sebelah utara.
Namun pengaruh serta ajaran rohaninya hidup terus sampai Abad Pertengahan, mengilhami pemimpin-pemimpin Reformasi seperti Luther dan Calvin untuk memberontak melawan hirarki Kristen yang menyeleweng.
Aurelius Augustinus, profesor kafir yang menerima Kristus di sebuah taman di Italia itu pada masa sekarang diingat oleh ahli-ahli sejarah Gereja sebagai orang Kristen yang paling berpengaruh sejak zaman Rasul Paulus.
(James C. Hefley, Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu Dengan Kristus)
Sunday, March 31, 2013
Mungkinkah ada Kebangkitan dari Kematian?
Benarkah ada peristiwa kebangkitan Yesus
Kristus?
Peristiwa tersebut telah terjadi lebih dari dua
ribu tahun yang lalu. Hari ini kita hanya dapat bersandar pada sedikit petunjuk
untuk mencoba mengertinya.
Alkitab mencatat bahwa di dalam empat puluh hari
setelah kebangkitan Yesus, di duabelas tempat yang berbeda, Kristus
memperlihatkan diri-Nya kepada lebih dari lima ratus orang termasuk rasul,
murid, wanita, dan saudara-saudara. Ada yang lebih dari satu kali melihat
Tuhan! Ada yang sendirian bertemu Tuhan. Ada yang bertemu Tuhan di pagi hari.
Yesus yang bangkit mengulurkan tangan dan kaki-Nya untuk dilihat banyak orang.
Yesus makan bersama-sama dengan mereka supaya mereka benar percaya
kebangkitan-Nya adalah sebuah fakta. Bukan khayalan.
Yesus berkata kepada Tomas, “Ulurkan telunjukmu.
Rablah tanganku. Ulurkan tanganmu, masukkan ke dalam rusuk-Ku. Jangan ragu,
percaya saja.” Tomas yang telah meraba bekas paku itu berseru dengan
terperanjat, “Tuhanku! Allahku!”
Pada malam ketika Yesus dijual, rasul Petrus
yang biasanya paling berani berubah menjadi seorang pengecut. Tiga kali Petrus
menyangkal Yesus. Rasul-rasul yang lain juga melarikan diri ke segala penjuru
untuk bersembunyi. Tetapi akhirnya mereka semua berubah. Mereka tidak lagi
takut dan tidak lagi bersembunyi. Malahan mereka datang kepada orang banyak dan
dengan suara lantang bersaksi bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati.
Mereka memberitakan Injil kebangkitan Yesus.
Akhirnya satu per satu rasul dibunuh. Ada yang
disalibkan terbalik. Ada yang mati dirajam batu. Ada yang dipenggal kepalanya.
Ada yang dibuang dipulau terpencil. Tetapi tidak satu pun yang mundur. Tidak
ada satu orang pun yang kompromi. Perubahan para rasul yang menyeluruh hanya
memiliki satu alasan:
Yesus Kristus benar-benar telah bangkit!
Tidak ada satu orang pun yang mau mati demi
kebohongan. Lebih tik mungkin lagi sekelompok orang rela menyerahkan nyawa
mereka demi sebuah kebohongan yang sama kecuali hal itu adalah kenyataan! Kecuali
hal itu adalah kebenaran! Jika Yesus tidak bangkit maka di antara dua belas
murid hanya dibutuhkan satu orang saja untuk menyatakan keberatan akan hal
tersebut. Di antara lima ratus orang yag pernah mengaku bertemu Yesus yang
telah bangkit, hanya dibutuhkan satu orang saja yang mengatakan bahwa
kebangkitan itu adalah sebuah kebohongan maka tidak ada orang yang akan percaya
bahwa Yesus sungguh telah bangkit.
Yesus Kristus dari sorga datang ke dunia
Ia mati disalibkan demi dosa orang banyak.
Lalu Ia bangkit pada hari yang ketiga.
Kristus memanggil setiap orang yang percaya
kepada-Nya
Supaya kelak juga dapat bangkit dan dapat
menikamati kebahagiaan hidup kekal.
Hanya dengan kebangkitan-Nya
Maka kematian tidak lagi menjadi akhir hidup
kita.
Melainkan justru kematian dijadikan-Nya
Permulaan dari kemuliaan.
Di dalam sejarah, banyak orang yang melalui
penelitian dan pemikiran mereka mencoba untuk menyerang Kekristenan. Tetapi
akhirnya justru karena adanya bukti dari kebangkitan tersebut mereka sendiri
malah menjadi orang Kristen. Ini adalah kuasa yang besar dari kebangkitan
Kristus seperti yang disaksikan syair lagu ini:
“Hidup, Hidup!
Kristus sungguh hidup!
Kurasa s’lalu dekat-Nya
Di dalam hidupku.
Hidup! Hidup!
‘Ku dis’lamatkan-Nya!
Sungguh Kristus Yesus hidup! Hidup dihatiku!”
Khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong (Terjemahan)
Friday, March 29, 2013
The Gospel
“The gospel is not a doctrine of the tongue, but
of life. It cannot be grasped by reason and memory only, but it is fully
understood when it possesses the whole soul and penetrates to the inner
recesses of the heart.”
Thursday, March 28, 2013
Kemuliaan Salib
Salib
adalah tempat di mana
tidak
ada mujizat
sehingga
salib memancarkan
mujizat
yang paling besar.
Salib
adalah tempat di mana
tidak
ada terang
sehingga
salib memancarkan
terang
yang paling besar.
Salib
adalah tempat di mana
tidak
ada pembelaan diri
sehingga
salib memancarkan
kuasa
yang paling besar.
Salib
juga adalah
suatu
yang paling bodoh
sehingga
salib memancarkan
bijaksana
yang paling besar.
-Pdt.
Dr. Stephen Tong-
Subscribe to:
Posts (Atom)

